Senin, 30 September 2019
Minggu, 29 September 2019
SEKOLAH TINGGI TEOLOGI INJILI ABDI ALLAH
Tafsir PL I Taurat: 2 SKS, Semester Antara 2019
Dosen:
Trivena
Ambarsari Sutanto, S.E., M.Th.
Mahasiswa:
Agus
Ndawa Pekambani
Prodi: PAK
Refleksi Kitab: Taurat Kej-Ul
Kitab Kejadian, Yang saya dapatkan dari kitab Kejadian adalah berawal
dari segala sesuatu yang di ciptakan oleh Allah. dan menjadi refleksi bagi saya
adalah saya sangat bersyukur sebagai manusia yang di ciptakan oleh Allah bisa
berfikir dan menikmati segala ciptaan Allah yang sangat istimewa didalam muka
bumi ini.
Kitab Kejadian
ini menjelaskan secara umum sejarah manusia selama beberapa ribu
tahun.Pada mulanya Allah meciptakan segala sesuatu baik saja, tetapi lambang ciptaan yang baik itu
menjadi makin rusak oleh karena dosa manusia yang ingin menjdi seperti Allah.
Kemudian semua makluk hidup dilenyapkan oleh air bah dan sejarah manusia
dimulai secara baru, tetapi manusia tinggal tetap dalam dosanya, sehingga
akibatnya mereka harus dipisahkan dan di sebarkan di seluruh dunia.
Mulai dari pasal 12 dan seterusnya, titik perhatian
dialihkan dari sejarah manusia pada umumnya kemudian dipusatkan pada satu
orang, yaitu Abraham dan keturunannya. Disini dapat kita lihat permulaan
pelaksanaan rencana Allah untuk keselamatan manusia.
1:1 Kitab Kejadian
adalah kitab dari segala permulaan dan berisi dasar-dasar bagi banyak teologi dari perjanjian Lama. kitab ini adalah buku pertama dari pentateukh, yang juga di kenal sebagai torah. Dan juga menjelaskan asal mula penciptaan, cerita penciptaan merupakan suatu komposisi sastra yang tersusun dengan sangat baik, dengan menggunakan karangka permula-permula (mis. Jadilah demikian dan “Allah melihat semuanya itu baik”) cerita ini menggemukakan Allah sebagai pribadi yang melakukan apa yang tadinya “tidak bertujuan, tidak teratur dan tidak berfungsi” dan menciptakan alam semesta dan segala isinya yang teratur.
Asal mula dosa
kitab Kejadian adalah menjelakan juaga asal mulanya dosa kedalam dunia dan
dampaknya pada sejarah manusia. Pada waktu Adam dan Hawa diciptakan, keabadian
ada di tangan mereka, karena pohon kehidupan berada di taman itu dan tersedia
untuk mereka gunakan. Ketika mereka menyerah pada godaan, mereka diusir dari
taman Eden dan tidak boleh mendekati pohon kehidupan. Di timbulkan karena
keinginan sama seperti Allah menimbulkan ketidaktaatan mereka mencakup keinginan
untuk memiliki otonomi, sebagaimana
anak-anak ingin memperoleh otonomi dari orang tua dan mengabil keputusan mereka
sendiri. itulah yang terjadi hubungan Adam dan Hawa dengan Allah. Kejadian memperlihatkan kebergantungan yang berbeda.
Ini merupakan awal dari beberapa siklus dosa dan merupakan hubungan sejarah.
Perjanjian Allah dengan Nuh, kaku Allah berfirman kepada Nuh serta berfirman kepada mereka, beranakcuculah dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi.
Perjanjian Allah dengan Nuh, kaku Allah berfirman kepada Nuh serta berfirman kepada mereka, beranakcuculah dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi.
1.2 Kitab Keluaran
adalah
menjelaskan bagaiman perjalanan hidup bangsa Israel menjadi budak di Mesir dan
pebebasan mereka dari penindasan bangsa Mesir. Kitab ini juga menyatakan Allah
yang nama-Nya adalah Yahweh dan menghubungkan keilahian-Nya yang hadir dan
berdiam ditegah umat-Nya, Israel. Ada
banyak cara yang Tuhan berikan, seperti halnya di mesir Tuhan membuat ada
banyak hal yang terjadi di mesir, yang menjadi pelajaran bagi saya bahwa Tuhan
itu tidak ada yang dapat mengahalangi
setiap pekerjaan yang Tuhan lakukan.
Kitab Keluaran menceritrakan
yang sebenarnya tentang karya penebusan Allah dan melepaskan Israel dari
perbudakan di mesir dan menetabkan hubungan perjanjian, yang unik dengan bangsa
itu, kedua perbuatan Allah ini menunjukkan maksud baik Allah untuk menepati
janji-Nya yang dibuat beberapa generasi lampau pada Abraham dan para bapa
leluhur.
Tujuan pokok dari kitab ini adalah penyataan diri
Allah. Allah tidak hanya mengingat janji-janji dalam perjanjian-Nya kepada bapa
leluhur Ibrani, tetapi sekarang sudah menyatakan diri-Nya juga kepada Israel
Yahweh dan juga kitab ini menceriitrakan sepuluh tulah naskah kitab keluaran
menyatakan bahwa konfrontasi antara Musa dan firaun pada dasarnya merupakan
suatu perumulan kosmos antara Yahweh, Allah yang benar, dan ilah-ilah palsu
dari agama Mesir.
Sepuluh hukum
ini juga yang dikenal sebagai dekalog atau “sepuluh Firman”, tertulis dalam
keluaran dan juga diulangi lagi dalam ulangan
Kehadiran Allah salah
satu akibat penting dari persetujuan perjanjian antara Yahweh dan Israel adalah
kehadiran Allah yang menyertai orang-orang Ibrani dalam perjalanan mereka dari
Mesir ke dataran moab melalui Gunung Sinai. Kehadiran Allah yang misterius pada
Israel dalam bentuk alternative awan dan tiang api tujuan hakiki dari narasi
pentateuh adalah “Tuhan diam di tegah-tegah umat-Nya.
1.3 Kitab Imamat
Dalam kitab ini menceritakan tentang imam dan tugasnya para imam, dan dalam hal ini menceritakan bagaimana para imam itu memiliki suatu tugas yang cukup berat. Dan berbicara kepada jamaat pada saat itu dan berbicara tertang peristiwa dan kejadian pada saat itu, berbicara tentang kekudusan Allah, persembahan, peristirahatan hari sabat dan Tuahan sabat, Kitab Imamat menegaskan kehadiran Allah bersama dengan umat-Nya dalam sebuah keperluan dari sebuah sistim pengorbanan (secara khusus persembahan-persembahan hubungan), hukum-hukum kesucian yang bermacam-macam dimaksudkan untuk menetabkan sebuah standar kekudusan bagi Israel dengan tepat untuk hubungan perjajian mereka dengan Allah, dan juga memberikan jaminan penghormatan untuk kehadiran-Nya di tegah-tegah mereka.
Selain itu juga mengingatkan kepada saya secara
pribadi adalah bagaimana bahwa ketika seseorang yang telah Allah pilih, maka
ada suatu penyertaan dan juga kuasa yang Allah berikan kepada setiap orang yang dipilih-Nya untuk melakukan
sebuah pekerjaan yang dipercayakan oleh Allah.
v
Kekudusan
Allah
v
Kesucian
masyarakat perjanjian
v
Perinsip
penggantian didalam ritual persembahan
v
Perinsip
perantara di dalam pelayanan imam-imam
v
Penebusan
waktu dengan menggunakan penanggalan liturgis
Kekudusan adalah
kata perjajian Lama “kekudusan” pada hakikatnya menyampaikan pengertian
“pemisahan” perkara-perkara sekular untuk pelayanan atau penyembahan pada
Yahweh, yang juga terpisah sama kekali dari ciptaan-Nya. Israel benar-benar
melaksanakan cita-cita “kekudusan” dalam pengalaman kehidupan mereka setiap
hari.
Persembahan
adalah ucapan kurban hanyalah satu cara bagi umat Ibrani untuk menghampiri
Allah Yahweh mereka yang kudus dari Israel. (selain dari doa Yeremia pertobatan
dan penyesalan karena dosa, gagasan persembahan tidak unik
bagi umat Ibrani di dunia kuno, karena kurban berupa binatang, gandum dan
minuman kepada dewa-dewa adalah biasa bagi aliran-aliran pemujaan di
mesopotania dan siro pelistina.
Perhentian sabat dan Tuhan sabat adalah petunjuk-petunjuk Kitab Imamat untuk kekudusan
dalam kehidupan bangsa Ibrani berlaku juga untuk penanggalan. Hari-hari besar
keagamaan ditentukan sesuai dengan pengalaman pertanian di pelistina sehingga
dengan demikian bangsa Israel dapat mengakui Yahweh sebagai pemberinafkah dan pemiliharaan
mereka perintah untuk merayakan satu
hari dalam tujuh hari sebagai perhentian sabat bagi Allah penetapan hari sabat mengingatkan Israel bahwa
Yahweh adalah sang pencipta hal ini juga menunjukkan “tidak membatasi waktu”
dalam penyembahan pada Yahweh dan menimbulkkan rasa “kekudusan” pada gagasan
manusia pada waktu.
1.4 Kitab Bilangan
Secara
teologis, tujuan Kitab bilangan adalah melestarikan kisah-kisah tahap-tahap
permulaan dari pelaksanaan praktis perjajian Allah yang belum lama ditetapkan
dengan Israel. Kitab ini menekankan.
Kesetian Allah kepada perjanjian-Nya
Walaupun pada waktu bangsa Israel datang ke mesir
dengan tidak terlalu banyak jumlahnya, akan tetapi ketika bangsa Israel itu
keluar dari mesir Tuhan menambahkan jumlah bangsa Israel. Dan bahkan jumlahnya
melebihi pada waktu ketika mereka keluar dan dari sini juga Tuhan tetap
menyertai bangsa Israel.
Menurut
saya kuasa Tuhan itu luar biasa tidak bisa diukur dengan keterbatasan manusia dalam berfikir tentang kuasa
Tuhan,
ataupun tidak
bisa
dirangkai dengan kata-kata, selain itu juga ada tongkat harun yang berbung jika
dipikirkan sangat
mustahil bagi saya, dan hal itu mustahil bagi manusia untuk dapat melakukannya, tongkat
yang tidak memiliki akar dan juga tumbuh di tanah.
Yang
menjadi refleksi
dalam hidup saya adalah dan juga yang
mengingatkan perjalanan
hidup saya,
bahwa Tuhan itu tidak pernah meninggalkan setiap orang yangpercaya dan mengandalkan Tuhan
dalam hidupnya, dan juga berharap kepada-Nya dan Tuhan. Ketika bangsa Israel
memberontak kepada Musa dan Harun, lalu Allah mengizinkan ular-ular tedung untuk keluar dan mematuk bangsa
Israel, dan lalu membuat patung dan harus melihat kepada patung itu. Ketika saya
membaca pada bagian ini ada banyak hal yang mengingatkann saya dan yang menjadi
makna bagi saya.
v
Kesetian
Allah kepada perjanjiann-Nya
v
Ujian
ilahi mengenai motivasi-motivasi manusiawi
v
Allah
mengkomnikasikan kebenaran-Nya melalui peranmtaraan budaya
v
Pemerintahan
Allah yang berdaulat atas bangsa-bangsa
v
Penyataan
Allah di budaya manusia
Kekudusan kata
perjanjian Lama pada hakekatnya menyampaikan pengertian “pemisahan”
perkara-perkara secular untuk pelayanan dan/ penyembahan pada Yahweh, yang juga
terpisah sama sekali dari ciptaan-Nya. Ini memberikan motivasi dan dorongan
kita sebagai manusia yang percaya kepada
Yahweh, yang benar maka kita juga harus melihat bagianmana keberdosaan
manusia karena penolakan terhadap kekudusan Allah.
1:5 Kitab Ulangan
Tujuan
Kitab Ulangan adalah dimaksudkan untuk merumuskan perjanjian antara Israel dengan Tuhan di Sinai. Kitab
ini juga menyediakan sebuah pemahaman yang lebih luas mengenai perjanjian di
Sinai yang memberikan kepada generasi kedua dari keluaran sebuah kesempatan
untuk memperbaharui perjanjian itu sebagai persiapan untuk memasuki negeri.
Yang menjadi refleksi buat saya adalah bagaimana
perjanjian Tuhan terhadap bangsa pilihan-Nya dan juga memilihara mereka dengan
anugerah dan kasih-Nya yang begitu besar dalam kehidupan dan bagaiman Allah
menyatakan kasih kepada bangsa Israel.
Pentingnya Kitab Ulangan
adalah penjelasan bahwa hukum taurat tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi
suatu daftar aturan-aturan yang baku. Sebaliknya, ia menyediakan jalan masuk
kedalam seluruh perkara kesalehan yang benar danh moralitas yang benar.
Hukum taurat mengubah itu
semua bagi umat Israel. Allah mereka sudah memilih untuk menyatakan diiri-Nya
dan memberitahu kepada mereka dengan jelas apa yang Dia harapkan dari mereka.
Hukum adalah alat masyarakat untuk memerintah diri sendiri; di Israel hukum
taurat adalah penyataan Allah.
Kenyataan bahwa Allah sudah
bertindak dalam sejarah atas nama mereka merupakan panggilannya jelas bagi umat
Israel untuk memerintah pemerintahan Allah yang penuh kewajiban, apa yang
diharapkan Allah dalam umat Israel di jelaskan dalam hukum taurat dan di catat
sebagai ketetapan-ketetapan dari perjanjian Allah. berkat-berkat dari
perjanjian itu akan hilang jika syarat-syaratnya tidak dipenuhi, meskipun hal
ini tidak berarti bahwa perjanjian itu akan dibatalkan dan tidak berklaku sama
sekali.
Kutukan-kutukan di lampirkan
pada perjanjian itu diungkapkan secara mencolok di kemudian hari dalam
tuduhan-tuduhan yang disampaikan oleh para nabi pada masa sebelum pembuangan sanpai kepada tanah perjanjian.
dan yang menjadi refleksi bagi hidup saya adalah bagaimana saya bisa melihat kasih dan kemurahan Tuhan yang begitu besar bagi unat pilihan-Nya.
Langganan:
Komentar (Atom)





